Kenapa Harus ber-IPM ??

By |2019-12-15T21:37:57+07:00December 15th, 2019|Artikel Islam|0 Comments

IPM  adalah singkatan dari Ikatan Pelajar Muhammadiyah, ialah sebuah organisasi otonom dibawah muhammadiyah yang fokus gerakan dakwahnya dikalangan pelajar. Walaupun IPM  organisasi tingkat pelajar, tapi eksistensi dan prestasinya sangat besar. Tercatat IPM 3 kali terpilih sebagai OKP (organisasi kepemudaan) terbaik tingkat Nasional dan 2 kali mendapat penghargaan  ASIAN Tayo  Award.  Penghargaan tersebut  pertanda bahwa kader IPM adalah  orang-orang yang berkualitas, pejuang tangguh, kesatria serta memiliki sinergi yang baik antara kemampuan Intelektual, Emosional dan Spiritual.

Setiap kader IPM memiliki perjuangan dan kisah menarik dalam menekuni organisasi ini. Disadari atau tidak IPM memberikan pengaruh positif dan memotivasi kadernya untuk melangkah lebih baik dan lebih maju. Saat saya berkunjung ke Pimpinan Wilayah IPM di Provinsi-Provinsi di tanah air, teman-teman disana selalu bercerita tentang perubahan positif yang mereka dapatkan setelah ber-IPM. Mulai dari mereka lebih tahu cara menghendel acara, semakin lancar berbicara didepan umum, dapat banyak teman dan kenalan, semakin sabar  dan bijaksana menyikapi  masalah dan masih banyak lagi lainnya. Pastinya ber-IPM itu tidak sia-sia.

Oke, disini saya akan sharing sedikit tentang apa yang saya dapatkan setelah berkecimpung di organisasi ini. Semoga bermanfaat dan menambah semangat kita untuk segera berbuat di IPM.

IPM adalah organisasi yang pertama kali saya tekuni dengan serius. Saat MTs dulu memang saya  pernah menjadi ketua OSIS 2 kali tapi miskin kegiatan karena jadi pemimpin saat itu adalah korban dari lelucon teman-teman. Saya kenal IPM tahun 2008 saat sekolah di SMA Plus Muhammadiyah Subulussalam. Sebelumnya nama Muhammadiyah begitu asing ditelinga, apalagi IPM. Ayahlah orang yang bertanggung jawab atas pilihan saya  bersekolah di Muhammadiyah.

 Saya pertama kenal IPM saat kelas 1 SMA. Saat itu juga awal dibentuknya IPM di Subulussalam. Hasil Musyawarah yang alot, terpilihlah saya sebagai ketua IPM Saat itu. Sama seperti saat jadi ketua OSIM  MTS dulu, saya pikir IPM hanyalah sebuah organisasi simbolis sekolah yang kegiatannya sebatas Perayaan hari-hari besar Islam dan rapat bulanan pengurus. Selang beberapa minggu jadi ketua IPM, saya diundang untuk mengikuti Pelatihan Kader Taruna Melati (PKTM) di Singkil. Di PKTM I  ini saya baru menyadari IPM bukanlah organisasi biasa seperti perkiraan saya. Gerakannya luas, bukan di sekolah Muhammadiyah saja tapi dari sekolah non-Muhammadiyah. Eksistensinya merata diseluruh pelosok Indonesia dari Pusat sampai ke desa-desa, serta di IPM rutin diadakan Perkaderan untuk mempersiapkan dan menjaga agar IPM dan kadernya tetap eksis. di Aceh Singkil  ini  pula saya melihat anak-anak SMP sudah aktif di IPM dan jadi panitia PKTM, mereka bekerja sesuai arahan, menjemput dan membagikan makanan ke kami, selalu senyum dan ramah walau kantong matanya tebal pertanda kurang tidur. disitu saya iri dengan mereka yang lebih awal mengenal dan berbuat  untuk  IPM dibandingkan saya.

Rasanya saya bermetamorfosis sejak di IPM. Dulunya saya yang tidak bisa apa-apa, di IPM saya belajar menjadi pribadi yang terus berbenah. Dulunya saya kesulitan bergaul dan berbaur dengan orang usia muda maupun tua, saya lebih nyaman sendiri hanya ditemani buku atau  novel saja, selain itu saya juga kesulitan berbicara didepan orang ramai, selalu gugup dan kebanyakan pakai ‘eee’ sebelum memulai kalimat. Pernah dapat jatah Kultum saat MTs dulu, saya melarikan diri sejadinya karena takut tampil didepan orang ramai. Namun,  setelah di  IPM saya belajar untuk berbaur dengan teman-teman, mulai belajar memiliki sahabat,  belajar berbicara  didepan umum dengan santai dan menguasai forum, apalagi saat jadi ketua IPM setiap minggu harus bicara didepan teman-teman, baik saat rapat, pengajian maupun memberikan kata sambutan.  

Alhamdulillah  karena bergelut di IPM, sekarang  ketika saya berbicara didepan Umum, ntah itu memberikan motivasi, mengajar dikelas, ceramah bulan Ramadhan, Khutbah Hari raya, Khutbah Jumat maupun kata sambutan di Acara formal selalu ada saja yang mengapresiasi dan mengomentari baik penampilan saya. Saat acara Kharakter Building yang diadakan Rektorat Unsyiah, Latihan kepemimpinan dan Menejemen Mahasiswa  (LKMM) Ikatan Senat Mahasiswa Kedoktean Indonesia di Riau, dan Moeslem Management and Leadership Champ  (MMLC) yang diadakan Forum Ukhuwah Lembaga Dakwah  Fakultas Kedokteran Indonesia di Palembang saya terpilih sebagai peserta terbaik dan dalam semua organisasi yang saya geluti baik Organisasi tingkat Kampus, Kota, Provinsi, Nasional dan bahkan Internasional saya dipercaya sebagai pengurus inti.  Saya Rasa tidak berlebihan bila saya katakan, Semua itu saya proleh berkat di kader di IPM!.

Di IPM semua tidak selalu berjalan mulus, kita dituntut harus siap berjuang dan menghadapi ujian/rintangan yang datang silih berganti. Di organisasi ini kita harus siap bila orang lain tidak selalu mengapresiasi kerja kita, harus siap dikritik keras, pedas dan menyudutkan, harus siap bila  mengirim pesan rapat/kumpul keanggota hanya dibaca doang dan tidak ada konfirmasi bisa/tidaknya hadir,  harus siap menunggu rapat terlalu lama sampai berjam-jam, harus sabar bila ada yang lebih memilih aktif diorganisasi lain padahal dia pengurus inti di IPM. tidak sampai disitu, di IPM kita harus siap  juga disaat orang lain bisa langsung pulang kerumah setelah sekolah/kuliah, di IPM malah rapat dadakan, harus sabar disaat yang lain hari minggu digunakan buat berlibur dan bermalas-malasan, di IPM malah hari minggu waktu yang tepat untuk mengumpulkan pengurus dan mengadakan  pengajian, harus siap saat yang lain bisa berbuka puasa dengan orangtua dirumah dengan menu seenaknya, di IPM malah membuat perkaderan dengan menu sekedarnya dan tidur beralaskan tikar, harus siap disaat yang lain menggunakan uang kiriman orang tua untuk membeli makanan enak atau shopping, di IPM malah terkadang uang kiriman yang terbatas itu disumbangkan untuk menyukesekan acara di IPM, Bahkan disaat orang lain tidak memikirkan dirinya, di IPM malah kita memikirkan Nasib orang lain diatas kepentingan dirinya.

Tetapi percayalah, semakin kita berjuang dan mengorbankan banyak hal di IPM membuat kita semakin CINTA sejadi-jadinya dengan IPM. semua yang kita perjuangkan, semua yang kita berikan, semua ujian yang kita hadapi,  semua kesedihan/kekecewaan yang  kita rasakan, semua  air keringat dan air mata yang  kita keluarkan mengajarkan kita untuk menjadi Pribadi tangguh, pribadi setia, Pribadi yang belajar mencintai sepenuh hati, mengikis ego-ego pribadi serta belajar meneladani sifat  mulia sang Nabi Muhammad SAW yang istiqomah dan selalu tegar berdakwah  walau luka, cemoohan, aniaya dan rasa sakit balasannya.

IPM  memang  bukan segala-galanya, tapi segala-galanya bisa dimulai disini, di IPM!!!. sekarang umur IPM sudah 56 tahun, Umur yang sudah tua dan lama untuk memberikan Inspirasi bagi pelajar tanah air agar terus bangkit, maju dan berkiprah untuk pelajar Indonesia yang berkemajuan.. Saya ingi pertegas sekali lagi bahwa “Aku Kader IPM. Terima kasih telah dikader IPM!!

Al Bukhari

About the Author:

Leave A Comment